Ini 5 Jenis Penyakit Autoimun Pada Wanita dan Pengobatannya
Penyakit autoimun pada wanita lebih banyak ditemukan, walaupun semua orang bisa mengalaminya. Penyakit ini terjadi karena adanya serangan sistem kekebalan tubuh (imun) terhadap organ sehat yang berada dalam tubuh sendiri.
Sebenarnya, masih belum jelas penyebab dari penyakit ini. Namun, ada beberapa penyebab umum dan jenis-jenis penyakit autoimun pada wanita serta pengobatannya yang bisa Anda ketahui di bawah ini.
Beberapa Penyebab Umum Penyakit Autoimun pada Wanita

Berikut beberapa penyebab penyakit autoimun pada wanita yang umum terjadi:
1. Hormon Seksual
Salah satu faktor utama yang berperan adalah fluktuasi hormon seksual wanita, khususnya estrogen dan progesteron. Hormon estrogen diketahui memiliki efek kompleks pada sistem kekebalan tubuh. Pada satu sisi, estrogen dapat bersifat imunostimulan, yang berarti dapat meningkatkan respons imun.
Peningkatan aktivitas imun ini, meskipun bermanfaat untuk melawan infeksi, juga dapat memicu atau memperburuk respons autoimun pada individu yang rentan. Perubahan hormon selama masa pubertas, kehamilan, dan menopause seringkali bertepatan dengan timbulnya atau memburuknya gejala penyakit autoimun tertentu.
2. Perbedaan Ketahanan Sistem Imun Antar Gender
Perbedaan mendasar dalam sistem kekebalan tubuh antara pria dan wanita juga memberikan kontribusi. Secara umum, sistem imun wanita cenderung menunjukkan respons yang lebih kuat dan cepat terhadap patogen dibandingkan pria.
Meskipun hal ini memberikan keuntungan dalam melawan infeksi, “hyper-responsiveness” ini juga berarti sistem imun wanita lebih cenderung salah mengidentifikasi sel tubuh sebagai ancaman, yang merupakan ciri khas autoimunitas. Lebih lanjut, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sel B dan sel T, komponen kunci dari respons imun, memiliki tingkat aktivitas yang berbeda antara kedua gender.
3. Kode Genetik Perempuan Lebih Rentan
Perempuan memiliki dua kromosom X (XX), sementara pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY). Banyak gen yang mengatur fungsi sistem kekebalan terletak pada kromosom X. Karena wanita memiliki dua kromosom X, hal ini berpotensi menggandakan jumlah gen terkait imun yang diekspresikan. Ini juga berarti bahwa jika salah satu kromosom X membawa gen yang rentan terhadap penyakit autoimun, kromosom X yang lain dapat memperburuknya.
Selain itu, proses inaktivasi kromosom X pada wanita dapat menjadi sumber mosaicism genetik yang berpotensi memicu kerentanan autoimun.
Apa Saja Jenis-Jenis Penyakit Autoimun pada Wanita?
Berikut jenis penyakit autoimun yang paling sering menyerang wanita dan memerlukan perhatian khusus:
1. Lupus (Systemic Lupus Erythematosus – SLE)
Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang dapat merusak hampir semua organ tubuh, termasuk kulit, persendian, ginjal, otak, sel darah, dan jantung. Gejala bervariasi luas, tetapi seringkali meliputi kelelahan ekstrim, nyeri sendi, ruam kulit, terutama ruam berbentuk kupu-kupu yang khas di wajah (melintasi pangkal hidung dan pipi), serta masalah ginjal. Mayoritas penderita lupus adalah wanita di usia subur.
2. Rheumatoid Arthritis (RA)
Rheumatoid arthritis adalah kelainan kronis yang ditandai dengan peradangan pada sendi. Tidak seperti keausan sendi pada osteoarthritis, RA menyerang lapisan sendi, menyebabkan pembengkakan yang menyakitkan yang pada akhirnya dapat mengakibatkan erosi tulang dan kelainan bentuk sendi. RA tiga kali lebih sering terjadi pada wanita dan biasanya muncul antara usia 30 hingga 60 tahun.
3. Multiple Sclerosis (MS)
Multiple Sclerosis adalah penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dengan merusak selubung mielin, lapisan pelindung di sekitar serabut saraf. Kerusakan ini mengganggu komunikasi antara otak dan bagian tubuh lainnya, menyebabkan masalah dengan penglihatan, gerakan, keseimbangan, dan sensasi. Wanita dua hingga tiga kali lebih mungkin untuk mengembangkan MS dibandingkan pria.
4. Psoriasis
Psoriasis adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan siklus hidup sel kulit menjadi cepat. Hal ini mengakibatkan penumpukan sel di permukaan kulit, membentuk bercak tebal, bersisik, merah, dan terkadang gatal. Meskipun dapat terjadi pada pria dan wanita, penyakit ini termasuk dalam kategori penyakit autoimun yang umum. Psoriasis dianggap sebagai penyakit autoimun karena sel T, yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh, menjadi terlalu aktif dan memicu peradangan serta pertumbuhan sel kulit yang cepat.
5. Tiroiditis Hashimoto
Tiroiditis Hashimoto, juga dikenal sebagai tiroiditis limfositik kronis, adalah penyebab paling umum dari hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid) di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan menyerang kelenjar tiroid, menyebabkan peradangan dan merusak kemampuannya untuk memproduksi hormon tiroid. Penyakit ini sembilan kali lebih umum terjadi pada wanita dan sering didiagnosis pada usia paruh baya. Gejalanya termasuk kelelahan, kenaikan berat badan, kulit kering, dan sensitivitas terhadap dingin.
Bagaimana Cara Mengobati Penyakit Autoimun pada Wanita?
Sayangnya, sebagian besar penyakit autoimun tidak dapat disembuhkan. Tujuan utama pengobatan adalah untuk mengendalikan gejala, mengurangi respons autoimun, dan membatasi kerusakan pada organ. Pengobatan harus selalu disesuaikan dengan jenis penyakit, tingkat keparahan, organ yang terlibat, dan kondisi kesehatan individu Anda.
Salah satu kelompok obat yang paling umum digunakan adalah obat antiinflamasi non steroid (OAINS), seperti ibuprofen, yang membantu meredakan nyeri dan peradangan ringan pada kondisi seperti RA. Untuk peradangan yang lebih serius, kortikosteroid (misalnya, prednison) sering diresepkan karena efek imunosupresifnya yang kuat, meskipun penggunaannya perlu diawasi ketat karena potensi efek samping jangka panjang.
Banyak penderita penyakit autoimun memerlukan obat imunosupresan dan agen pengubah penyakit antirematik (DMARDs). Obat-obatan ini bekerja dengan menekan keseluruhan sistem kekebalan tubuh untuk menghentikan serangan autoimun. Jenis DMARDs terbaru yang sangat efektif adalah terapi biologis. Obat biologis secara spesifik menargetkan bagian-bagian tertentu dari respons imun, seperti sitokin tertentu atau sel T/B, yang terlibat dalam proses penyakit, sehingga memberikan penekanan imun yang lebih terfokus.
Selain pengobatan farmakologis, modifikasi gaya hidup memegang peranan penting. Ini termasuk mempertahankan pola makan seimbang yang mendukung anti-peradangan, mengelola stres secara efektif (karena stres dapat memicu gejala), dan memastikan tidur yang cukup.
